Sumber artikel: glutamate.org

Ketidakmampuan merasakan rasa umami sering dikaitkan dengan penurunan fungsi indera perasa, yang mengakibatkan penurunan minat makan.

Demensia dan fungsi kognitif pasien dengan Alzheimer Demensia Disease (ADD) dianggap menunjukkan gangguan pada indera perasa. Namun, penelitian tentang topik ini tidak ekstensif. Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam BMC Neurology edisi Maret 2020, telah menemukan bahwa pasien dengan penyakit Alzheimer dan bahkan dengan gangguan kognitif ringan telah mengurangi fungsi rasa dan beberapa tidak dapat mengenali rasa umami (rasa kelima) bahkan pada konsentrasi tinggi.

Peneliti yang berafiliasi dengan Department of Biological Regulation, School of Health Science, Faculty of Medicine, di Tottori University Jepang, menyelidiki fungsi gustatori dan faktor yang memengaruhi rasa pada pasien dengan ADD atau gangguan kognitif ringan (MCI) dan pada pasien non-demensia. Para peneliti mengevaluasi hubungan antara gangguan kognitif dan fungsi gustatori dan penurunan fungsi rasa yang dikonfirmasi pada pasien dengan ADD. Penurunan fungsi rasa ini tidak terkait dengan air liur, kadar seng serum, ataupun obat resep.

Yang paling menarik adalah kenyataan bahwa banyak subjek penelitian dengan pasien Alzheimer atau bahkan pasien dengan gangguan kognitif ringan tidak dapat mengenali rasa umami, yang mana secara langsung terkait dengan penurunan minat mereka untuk makan. Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa umami dapat bermanfaat bagi nutrisi lansia secara keseluruhan.

MSG Dapat Berperan dalam Peningkatan Fungsi Kognitif pada Orang dengan Demensia

Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition (EJCN) edisi Februari 2019, menemukan bahwa monosodium glutamat (MSG) dalam makanan mungkin memiliki efek positif pada fungsi kognitif pada orang yang menderita demensia.

Dalam studi EJCN, para peneliti di School of Health Science, Tottori University Jepang, membagi peserta studi menjadi dua kelompok berdasarkan apakah mereka mengonsumsi MSG. Ini adalah uji coba dengan sistem single-blind (di mana subjek penelitian tidak mengetahui bahan uji yang diberikan) dan placebo-controlled (di mana subjek penelitian dibagi menjadi 2 dan diberi bahan uji berbeda). Penelitian ini melibatkan 159 subjek dengan penyakit demensia yang tinggal di rumah sakit atau panti jompo. Para peneliti menemukan bahwa peserta studi yang mengonsumsi MSG setiap hari mengalami sedikit peningkatan dalam memori. Misalnya, mereka mampu mengingat lebih banyak kata dalam tes dan merasa lebih mudah untuk mengetahui waktu.

Para peneliti tidak dapat menjelaskan mengapa MSG mungkin memiliki efek positif pada memori, tetapi mereka menyebutkan itu mungkin karena meningkatkan penyerapan seng pada tubuh. Para peneliti mencatat, “Meskipun kami tidak dapat membuat kesimpulan yang jelas, regenerasi pengecap sebagai respons terhadap peningkatan penyerapan seng selama periode asupan MSG mungkin muncul sebagai efek berkelanjutan, bahkan setelah konsumi MSG dihentikan.”

Para peneliti menyatakan sebagai kesimpulan, “Hasil kami menunjukkan bahwa konsumsi MSG secara terus-menerus memiliki efek pada fungsi kognitif,” mencatat bahwa subjek dalam kelompok MSG menunjukkan peningkatan fungsi kognitif pada tindak lanjut empat minggu setelah periode intervensi.

Walau masih sangat awal, studi ini menambah literatur tentang bagaimana berbagai makanan mungkin dapat mengurangi efek demensia. Misalnya, para peneliti mencatat bahwa penelitian di masa depan harus berupaya untuk menstandarkan jumlah dan kandungan makanan. Diharapkan, penelitian selanjutnya terkait dengan efek terapi makanan pada pengobatan pasien demensia dapat segera terwujud dan peran MSG tentunya akan dieksplorasi lebih lanjut.

Rasa Umami Penting untuk Kesehatan Secara Keseluruhan

Penelitian terbaru lainnya menemukan bahwa kemampuan mencicipi rasa umami dalam makanan dapat bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan, terutama pada orang lanjut usia. Baca tentang penelitian ini, di mana tes rasa mengungkapkan bahwa pasien lanjut usia yang kehilangan rasa umami juga mengeluhkan nafsu makan dan penurunan berat badan.

Sebuah studi serupa yang menyelidiki nutrisi untuk lansia menemukan bahwa menambahkan bumbu dan saus pada makanan lansia mungkin bermanfaat dalam meningkatkan asupan makanan bagi lansia serta mendorong peningkatan nutrisi secara keseluruhan untuk lansia. Banyak saus dan bumbu yang digunakan dalam penelitian ini mengandung monosodium glutamat (MSG) atau bahan yang kaya kandungan glutamat seperti tomat atau jamur yang dikeringkan dengan sinar matahari dan ditambahkan ke makanan seperti ayam, sayuran, dan kentang tumbuk.

Artikel lainnya