Sumber artikel: glutamate.org

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa MSG (monosodium glutamat) aman untuk manusia dari segala usia, termasuk anak-anak, bayi, dan wanita hamil.

Tubuh manusia mampu memetabolisme glutamat tambahan (MSG) dengan cara yang sama seperti tubuh memetabolisme glutamat alami yang terkandung di banyak bahan makanan organik. Setelah glutamat dicerna, tubuh tidak akan membedakan asal-usul dari zat glutamat yang masuk. Penelitian lebih lanjut dengan bayi dan anak-anak secara khusus menunjukkan bahwa mereka mampu memetabolisme zat glutamat dengan cara yang sama seperti yang terjadi dengan orang dewasa.

Pada bulan Juni 1991, Komite Ilmiah Komunitas Eropa untuk Makanan menyatakan bahwa, “Bayi, termasuk bayi prematur, telah terbukti dapat memetabolisme glutamat seefisien orang dewasa dan oleh karena itu tidak menunjukkan kerentanan khusus terhadap peningkatan asupan glutamat secara langsung.”

Apa Kaitan antara Glutamat dan Monosodium Glutamat?

Glutamat adalah salah satu asam amino paling umum yang ditemukan di alam. Ini adalah komponen utama dari banyak protein dan peptida, dan terdapat di sebagian besar jaringan. Glutamat juga diproduksi di dalam tubuh dan memainkan peran penting dalam proses metabolisme manusia. Hampir dua kilogram glutamat alami ditemukan di otot, di otak, di ginjal, di hati dan di organ serta jaringan lain dalam tubuh. Zat Ini adalah komponen utama dari sebagian besar makanan berprotein alami seperti daging, ikan, susu dan beberapa sayuran. Monosodium Glutamat atau umumnya dikenal sebagai MSG, adalah garam natrium glutamat yang hanya mengandung glutamat, air dan natrium.

Dewan Informasi Pangan Internasional, dalam jurnal tinjauan rincinya menyatakan, “Tubuh tidak membedakan antara glutamat dari makanan seperti tomat atau MSG yang ditambahkan ke saus tomat. Faktanya, penelitian sekarang menunjukkan bahwa glutamat dari makanan atau MSG penting untuk fungsi normal saluran pencernaan dan pencernaan.”

Dalam sesi tanya jawab yang diunggah di situs web U.S. Food & Drug Administration (FDA), sebagai tanggapan atas pertanyaan, “Apa perbedaan antara MSG dan glutamat dalam makanan?” FDA menyatakan, “Glutamat dalam MSG secara kimiawi tidak dapat dibedakan dari glutamat yang ada dalam protein makanan. Tubuh kita pada akhirnya memetabolisme kedua sumber glutamat dengan cara yang sama.”

Mengapa MSG Ditambahkan ke Beberapa Makanan dan Berapa Banyak yang Dapat Dikonsumsi Manusia?

Zat MSG sendiri tidak memiliki kandungan rasa di dalamnya, tetapi bersifat membantu meningkatkan rasa gurih alami dari sebuah makanan. Ketika MSG ditambahkan untuk meningkatkan cita rasa makanan, rasa yang diperoleh dari MSG yang terjadi secara alami atau ditambahkan dalam makanan digambarkan sebagai “umami” – rasa dasar yang kelima setelah rasa manis, asam, pahit dan asin. Umami adalah rasa gurih yang dinikmati banyak orang di berbagai makanan.

Alasan utama lainnya mengapa MSG ditambahkan adalah untuk membantu mengurangi kandungan natrium dalam sebuah makanan sembari tetap menjaga kelezatannya. MSG hanya mengandung sepertiga dari jumlah natrium sebagai garam meja. Oleh karena itu kandungan natrium pada makanan olahan dapat diturunkan dengan menggunakan MSG untuk menggantikan sebagian garam.

Monosodium glutamat yang ditambahkan ke makanan untuk meningkatkan rasa hanya mewakili sejumlah kecil dari total glutamat yang ada di sebagian besar makanan. Misalnya, rata-rata jumlah glutamat harian yang dikonsumsi dalam bentuk yang terikat sebagai protein dari makanan adalah sekitar 15 gram. Selain itu, sekitar 1 gram glutamat bebas dalam makanan juga akan dikonsumsi pada hari yang sama. Sebaliknya, asupan harian rata-rata dari tambahan monosodium glutamat berkisar antara 0,5 gram dan 3,0 gram sehari, tergantung pada kebiasaan makanan dan masakan setempat.

Jurnal tinjauan Dewan Informasi Pangan Internasional, mencatat “Data konsumsi terkini dari Inggris menunjukkan bahwa konsumsi MSG per kapita adalah 4 gram (kurang dari satu sendok teh) per minggu. Ini sebanding dengan perkiraan jumlah konsumsi rata-rata konsumen di Amerika Serikat yaitu sekitar 0,55 gram. Di Taiwan, misalnya, angka konsumsi per kapita jauh lebih tinggi, yaitu rata-rata 3 gram per hari.”

Konsensus bahwa MSG Aman untuk Ibu Hamil dan Anak

Ada kesepakatan umum dalam di dalam komunitas ilmiah, berdasarkan studi toksikologi dan medis ekstensif yang dilakukan selama lebih dari empat dekade, bahwa MSG aman untuk masyarakat secara umum, termasuk wanita hamil dan menyusui, serta anak-anak.

Para ilmuwan telah menyelidiki efek konsumsi MSG pada bayi menyusui. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap wanita menyusui yang mengonsumsi MSG pada 100 mg/kg dari berat badan, para ilmuwan menemukan tidak ada peningkatan tingkat glutamat dalam ASI, dan tidak berpengaruh pula pada asupan glutamat bayi. Pada bulan Desember 1993, American Academy of Pediatrics Committee on Drugs meninjau efek makanan dan agen lingkungan pada menyusui. Dalam laporannya, Komite menyatakan bahwa MSG tidak berpengaruh pada laktasi dan tidak menimbulkan risiko pada bayi yang mengonsumsinya. (Pediatrics, 93: 137- 150, 1994)

Dalam jurnal tinjauannya, IFIC mencatat: “(Kami) telah berspekulasi bahwa anak-anak akan memetabolisme MSG oral lebih lambat daripada orang dewasa. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Stegink dan rekannya di University of Iowa menunjukkan bahwa anak-anak semuda satu tahun memetabolisme glutamat seefektif orang dewasa. Dalam penelitian tersebut, bayi-bayi tersebut diberi makan daging sapi yang diberi MSG dengan berbagai tingkat dosis seperti 0,25 dan 50 mg/kg dari berat badan. Peneliti mengukur kadar glutamat plasma pada bayi, dan setelah membandingkan kadar plasma anak-anak dengan orang dewasa, mereka tidak menemukan nilai glutamat plasma yang lebih tinggi dari sampel milik anak-anak.”

Tidak Perlu Ada Batasan untuk Penggunaan Aman MSG

Jumlah glutamat yang digunakan dalam makanan biasanya berkisar antara 0,1% dan 0,8% dari makanan yang disajikan. Ini serupa dengan tingkat glutamat alami yang ditemukan dalam hidangan-hidangan tradisional. Rasa monosodium glutamat bersifat self-limiting, atau dapat membatasi dirinya sendiri. Ini berarti bahwa setelah sejumlah MSG yang sesuai telah dimasukkan ke dalam makanan, menambahkan MSG lagi hanya akan berkontribusi sedikit pada rasa makanannya. Faktanya, menambahkan terlalu banyak MSG pada makanan justru akan memperburuk cita rasa makanan tersebut.

Karena MSG adalah salah satu bahan makanan yang paling banyak dipelajari dalam pasokan makanan dan telah ditentukan oleh penelitian ekstensif agar aman untuk tubuh, Komite Ahli Bersama untuk Bahan Tambahan Makanan (JECFA) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan MSG dalam kategori paling aman untuk makanan dengan zat aditif. Selanjutnya, pada tahun 1991 Komite Ilmiah untuk Makanan Komisi Eropa menegaskan kembali keamanan dari monosodium glutamat. Berdasarkan penelitian ilmiah yang ekstensif, komite memutuskan bahwa tidak perlu untuk menetapkan Acceptable Daily Intake (ADI), atau batas konsumsi harian dari MSG.

Artikel lainnya